06 Agustus, 2009

Katakan "STOP REKAYASA NILAI"


Kalau anda, para guru, sempat membaca totto chan, buku yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, seorang mantan murid SD yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi, sebuah SD yang sangat revolusioner dalam gaya belajar dan pengajarannya, anda akan berpikir ulang ketika anda akan mengatrol (baca: merekayasa) nilai para murid. Sekolah yang didirikan oleh Kobayashi adalah sekolah yang benar-benar unik. Bagaimana tidak unik jika metode pendidikan Keboyashi, seperti yang ditulis oleh Kuroyanagi di halaman-halaman terakhir bukunya, adalah sebuah cara mendidik yang dilandasi rasa yakin bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak yang baik. Bahwa kalau ada anak yang tidak berwatak baik, berarti watak baik itu telah dicemari dan dirusak oleh lingkungan yang buruk atau pengaruh negatif dari orang dewasa disekitarnya. Kobayashi mendirikan sekolah itu dengan tujuan untuk mengembalikan watak baik anak-anak dan mengembangkannya, sehingga mereka akan memiliki kepribadian yang khas di masa dewasanya.

Maka, mengacu pada keyakinan Kobayashi, jika kita mengatrol nilai siswa berarti kita, sadar atau tidak, telah merubah fungsi sekolah yang semula sebagai tempat pencerahan pikiran dan perilaku menjadi lingkungan yang ikut andil dalam merusak watak baik anak. Di sekolah, mereka, secara tidak langsung, diajari kecurangan dan ketidakjujuran. Mereka belajar untuk mencari jalan pintas dan tidak belajar untuk menjadi ulet dan pekerja keras.

Yang salah, sehingga timbul budaya katrol nilai, adalah pandangan bahwa kecerdasan diukur dari memiliki nilai-nilai sempurna di setiap mata pelajaran-jika seorang anak tidak mendapat nilai yang baik, pasti dia tidak cerdas. Sungguh suatu pandangan yang bodoh. Kita bisa lihat di sekitar. Anak yang pulang dengan buku raport yang ‘hitam’ sempurna, orang tua akan sangat gembira, membelikannya hadiah dan membanggakannya dihadapan orang lain. Tetapi ketika nilainya ‘merah’, orang tua akan cemberut, memarahi dan menghukum, bahkan mungkin malu dengan anaknya yang (dengan sangat sembrono dicap sebagai anak) bodoh.

‘Penyakit’ ini tidak hanya menjangkiti orang tua, tetapi, kemudian, berturut-turut guru ( yang tidak mau dianggap sebagai guru gagal karena tidak bisa mencerdaskan siswa ), sekolah (yang ogah disebut sebagai sekolah tidak bermutu) dan seterusnya, sehingga lama-kelamaan pengatrolan nilai menjadi sebuah budaya baru.

Orang tua, kita (para guru), sekolah dan seterusnya lupa bahwa esensi pendidikan bukanlah pada angka yang ditulis di lembar rapot atau transkrip nilai. Kita lupa bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang panjang. Proses yang melelahkan inilah yang paling penting. Saya, mengajar bahasa Inggris di sekolah pinggiran kota, pernah mendengar siswa saya yang mengatakan bahwa dia tidak akan menjual es cendol sampai ke Inggris. Siswa saya itu tidak menyukai pelajaran yang saya ampu. Yang dia maksudkan dengan perkataannya tadi adalah, dia tidak perlu fasih berbahasa Inggris untuk mendapatkan uang. Saya jawab memang betul. Dia bisa jadi tidak akan bergantung pada keahliannya berbahasa Inggris untuk mendapatkan penghidupan, tetapi jika dia tekun belajar bahasa Inggris ( dan pelajaran-pelajaran lain ) maka sebetulnya dia akan terbiasa untuk berpikir secara ajeg (kontinyu). Kalau dia sudah terbiasa berpikir secara ajeg, dia akan mendapatkan semacam ‘kunci’ untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang dia temui di masa mendatang. Tetangga saya, seorang sarjana pertanian jurusan ilmu tanah keluaran IPB, bekerja sebagai pegawai bank yang sukses. Taufiq Ismail, penyair hebat itu, adalah dokter hewan lulusan IPB juga. Apakah Tufiq Ismail bodoh hanya karena ia lebih fokus pada kepenyairannya daripada menjadi dokter hewan? Sekali lagi, proses lebih penting daripada angka.

Kalau kita, para guru, mau sedikit meluangkan waktu membaca Frames of Mind, buku yang ditulis oleh Howard Gardner, profesor kognisi dan edukasi di Universitas Harvard, kita pasti tidak akan memaksa untuk menuliskan nilai yang tidak sesuai dengan keadaan anak didik kita. Gardner mengatakan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya berupa kecerdasan linguistik dan matematis logis seperti yang telah diakui secara luas. Tetapi masih ada lagi kecerdasan yang lain seperti kecerdasan musikal, kecerdasan spasial dan visual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal serta kecerdasan naturalis. Perbedaan tipe kecerdasan antara orang perorang akan mempengaruhi gaya belajar, gaya bekerja dan karakter mereka.

Jika seorang anak di kelas kita adalah anak dengan tipe kecedasan kinestetis, mengapa kita harus memaksa dia agar cerdas secara matematis-logis? Memang bukan suatu hal yang mustahil, jika mau kerja keras dan tekun, seseorang dengan jenis kecerdasan tertentu akan mendapatkan jenis kecerdasan yang lain. Tetapi akan ada banyak waktu yang terbuang. Sedangkan kalau ia menekuni apa yang menjadi jenis kecerdasannya, dia mungkin telah dapat mengembangkannya dengan sangat baik. Sekarang apakah tidak janggal jika anak-anak- saya tuliskan secara jamak, bukan tunggal- kita secara akal-akalan tampak cerdas di semua pelajaran? Seharusnya sekolah menjadi lingkungan yang tepat bagi tiap-tiap siswa untuk mengembangkan tipe kecerdasan mereka.

Pengatrolan nilai, alih-alih meningkatkan martabat guru dan sekolah, hanya akan mematikan kecerdasan dan motivasi siswa. Siswa yang dapat nilai baik, padahal dia tahu kalau dia tidak berhak nilai itu, cenderung akan meremehkan guru. Begitu juga dengan siswa yang benar-benar cerdas, yang mati semangat belajarnya karena merasa jerih payahnya selama ini tidak dihargai. Akan lebih celaka lagi ketika anak-anak yang mendapat nilai ‘fantastis’ di raport, tidak lolos tes masuk SMA. Angka-angka itu tidak berguna lagi. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah pun luntur.

Kita pernah memiliki tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir dan lainnya. Mereka adalah tokoh-tokoh terkenal dan disegani tidak hanya dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Mereka adalah produk pendidikan di masa itu. Sedangkan sekarang, mengapa pendidikan kita saat ini gagal melahirkan tokoh-tokoh besar seperti mereka? Karena pendidikan saat itu menyakini bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Yang dilalui setapak demi setapak. Sedangkan pendidikan saat ini sangat mendewakan hasil, bukan proses. Perubahan paradigma pendidikan kita ini tidaklah berdiri sendiri melainkan dampak dari perubahan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Lihatlah sinetron-sinetron kita, lihatlah tayangan-tayangan untuk mencari idola-idola yang banyak peminat, kesemuanya itu mendidik itu untuk bergaya hidup senang, tetapi dengan usaha minimal. Mental seperti ini telah merasuki sistem pendidikan kita.

Kita harus berorientasi pada jangka panjang, bukan berorientasi pada jangka pendek. Dengan demikian, kalau anda rajin melihat empat mata-nya Thukul, anda akan berpandangan, bukan hanya menirukan, bahwa katrol nilai itu katrok.

BEBAN BERAT SEORANG GURU



“Sungguh berat beban seorang guru. Jika siswa tidak lulus, yang disalahkan gurunya. Jika mereka terlibat tawuran, yang disalahkan gurunya. Namun, jika guru dilecehkan oleh murid – muridnya, mereka harus selalu bersabar. Tidak bersabar, bahkan bila sampai menangani murid – muridnya, mereka akan dituduh telah melanggar HAM.”

Bel masuk berbunyi. Saya dan teman guru yang lainnya masuk ke kelas untuk mulai mengajar. Di tengah – tengah mengajar, saya mencandai para siswa itu: “Jika kamu nakal, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menampar kamu”. Dengan tertawa murid – murid saya menjawab: “Jika Ibu menampar kami, hal pertama yang akan kami lakukan adalah melaporkan Ibu ke polisi karena Ibu telah melanggar HAM”. Kami lalu tertawa bersama.

Bel istirahat berbunyi. Tanpa saya duga, seorang guru wanita melaporkan kenakalan anak – anak di kelasnya yang sudah kelewat batas. Ketika ibu guru itu marah – marah, dengan mengejek, anak – anak itu berkata bahwa mereka akan melaporkan sang ibu guru jika sampai memukul mereka.

Seorang guru senior, kemudian angkat bicara. “Itulah. Guru sekarang tidak lebih bermartabat daripada guru di masa lampau. Guru – guru saya dulu, tidak segan memukul siswa dengan penggaris jika murid – muridnya melakukan kesalahan. Itupun masih disertai dengan omelan yang menyakitkan hati. Tapi, banyak dari murid – murid itu yang kemudian menjadi orang – orang yang sukses. Saat ini, anak – anak kita dimanjakan dengan perlakuan istimewa. Tapi kemampuan akademis anak – anak sekarang tidak lebih baik daripada siswa – siswa lulusan sekolah jaman dulu. Celakanya, selalu guru yang disalahkan”.

Entah mana yang benar. Tapi keluhan beberapa guru di atas tidak bisa disalahkan begitu saja.

04 Agustus, 2009

Jadilah Guru yang Selalu Ditunggu Siswa

Banyak sekolah tak berhasil menyiapkan murid memenuhi tuntutan pasar kerja.
Itu harus dihindari sejak sekarang. Karena itu guru dituntut bisa menjadikan murid berkemampuan menerapkan ilmu dan pengetahuan di masyarakat.

Dunia hanya ada dua profesi. Satu guru, sedangkan kedua yang lain-lain. ”Itu berarti semua profesi berawal dari guru. Tak ada dokter langsung lulus, tetapi berawal dari guru. Itu luar biasa,”.

Karena itu dia meminta mereka menjadi guru yang disukai dan ditunggu-tunggu murid. Ketika guru tak kelihatan, para siswa pun mencari. ”Jika sakit, dia didoakan bersama-sama.”

Dia meminta mereka kelak tak menjadi guru yang membosankan di kelas. Guru harus bisa menerangkan pelajaran secara jelas. Pelajaran rumit jadi sederhana.

Mengenal Murid

”Jangan jadi guru yang hanya duduk, menerangkan sambil memegang buku. Jadilah guru yang tak pegang buku lagi di depan para murid karena sudah mempersiapkan bahan sebelum pelajaran. Guru harus kenal murid satu per satu. Ketika tak seorang murid tak masuk, dia langsung tahu,”.

”Jangan sampai ketidakhadiran guru malah membuat semua murid senang. Kalau masih ada yang seperti itu, itu menunjukkan guru tersebut tak berhasil mengajar dengan baik.”

Jadilah Guru yang Selalu Ditunggu Siswa''

Banyak sekolah tak berhasil menyiapkan murid memenuhi tuntutan pasar kerja.
Itu harus dihindari sejak sekarang. Karena itu guru dituntut bisa menjadikan murid berkemampuan menerapkan ilmu dan pengetahuan di masyarakat.

Dunia hanya ada dua profesi. Satu guru, sedangkan kedua yang lain-lain. ”Itu berarti semua profesi berawal dari guru.
Tak ada dokter langsung lulus, tetapi berawal dari guru. Itu luar biasa,”.

Karena itu dia meminta mereka menjadi guru yang disukai dan ditunggu-tunggu murid. Ketika guru tak kelihatan, para siswa pun mencari. ”Jika sakit, dia didoakan bersama-sama.”

Dia meminta mereka kelak tak menjadi guru yang membosankan di kelas. Guru harus bisa menerangkan pelajaran secara jelas. Pelajaran rumit jadi sederhana.

Mengenal Murid

”Jangan jadi guru yang hanya duduk, menerangkan sambil memegang buku. Jadilah guru yang tak pegang buku lagi di depan para murid karena sudah mempersiapkan bahan sebelum pelajaran. Guru harus kenal murid satu per satu. Ketika tak seorang murid tak masuk, dia langsung tahu,”.

”Jangan sampai ketidakhadiran guru malah membuat semua murid senang. Kalau masih ada yang seperti itu, itu menunjukkan guru tersebut tak berhasil mengajar dengan baik.”


05 April, 2009

Solusi Penelitian bagi Guru

GURU adalah jabatan profesional. Salah satu ciri keprofesionalan adalah kemampuan meneliti. Esensi penelitian berkait dengan pembelajaran yang meliputi meliputi tiga hal.

Pertama, perencanaan berupa kemampuan menyusun perangkat administrasi berupa silabus, rencana pembelajaran. Kedua, kemampuan menyajikan pembelajaran secara menarik, bermakna, dan bermutu. Ketiga, kemampuan menilai hasil pembelajaran secara berkesinambungan.

Merujuk hal itu, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian itu bersifat reflektif, mengulas secara kritis, dengan melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki praktik pembelajaran di kelas secara profesional. Tujuan utama PTK untuk memperbaiki pembelajaran yang didasari hasil penelitian pendahuluan, sehingga menghasilkan suatu tindakan.

McKey (2007) menyatakan, proses PTK terdiri atas tujuh tahap. Pertama, pemilihan dan pembatasan masalah. Kedua, pengumpulan bahan. Ketiga, penyusunan bahan. Keempat, pembuatan kerangka tulisan. Kelima, penulisan naskah awal. Keenam, revisi. Ketujuh, penulisan naskah akhir.

Kelemahan mendasar adalah guru belum terbiasa menulis. Mereka lebih terbiasa berbicara. Apalagi motivasi mereka rendah serta wawasan dan pendukung bacaan minim. Itu diperparah oleh perasaan tak mampu, takut salah, tak berani mengambil risiko, dan alasan klasik tak punya waktu, serta merasa sudah hidup mapan, tak mau berubah.

Pangkal permasalahan ternyata adalah keberanian guru untuk mengubah paradigma berpikir bahwa meneliti adalah bagian dari hidup mereka. Bila kondisi itu dibiarkan berlarut-larut, akan membuat pembelajaran mandek dan monoton sehingga kemampuan siswa pun rendah.

Untuk mengatasi perlu dorongan, latihan, dan membudayakan guru menulis PTK. Hal itu untuk mengembangkan profesi atau memperoleh angka kredit jabatan fungsional.

Guru perlu membiasakan diri melakukan PTK sebagai wujud tanggung jawab pendidik dan pengajar. Pemberdayaan guru dalam pembelajaran lewat PTK menjadi salah satu bahan masukan penyusunan dan penetapan kebijakan pendidikan.

Yang tak kalah penting, guru mau memutakhirkan ilmu pengetahuan, belajar secara berkelompok, dan membiasakan diri menulis catatan harian selama dan setelah mengajar di kelas.

Itu bisa menjadi bahan orisinal sebagai langkah awal PTK. Guru perlu menyadari bahwa permasalahan di kelas tak akan terselesaikan orang lain, jika sang guru tak memecahkan masalah melalui PTK. Selamat mencoba. (53)

Dijamin Tak Ada Penghentian Tunjangan Profesi Guru

OLEH- OLEH MENGIKUTI SEMINAR DI PASCASARJANA (S2) UNNES
=========================================================

SEMARANG-Para guru diminta tidak mempercayai kabar yang mengatakan pembayaran tunjangan profesi guru PNS dan non-PNS pada Depdiknas dan Depag untuk sementara dihentikan dan tunjangan profesi yang telanjur dibayarkan secara bertahap akan dipotong.

"Pembayaran tunjangan profesi bagi guru yang telah bersertifikasi adalah amanat UU. Jika Menkeu tidak mau membayarkan tunjangan tersebut, berarti UU harus diganti,'' ungkap Direktur Profesi Pendidik, Dirjen PMPTK Dr Achmad Dasuki MPd.

Dia mengungkapkan hal itu saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Arah Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang diprakarsai oleh Program Pascasarjana Unnes dalam rangkaian Dies Natalis Ke-44 PTN itu di Auditorium Sekaran, baru-baru ini.

Karena itu ia menyayangkan pertanyaan petinggi salah satu organisasi guru yang banyak dikutip media massa belakangan ini yang dinilainya meresahkan para guru.

Hal itu terkait kabar tentang surat Menteri Keuangan No S-145/MK.05/2009 tertanggal 12 Maret 2009 tentang pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen PNS dan non-PNS pada Depdiknas dan Depag yang akan ditunda atau dipotong sesuai ketentuan jika sampai dengan akhir tahun 2009 PP mengenai hal itu belum juga ditetapkan. ''Hal itu tidak akan terjadi. Apalagi Kepres juga sedang disusun,'' tegasnya.
Evaluasi

Pada kesempatan itu, Achmad juga menepis anggapan bahwa para guru agama dianaktirikan dalam sertifikasi. Pasalnya, sambung dia, dalam sertifikasi yang dinilai adalah kompetensi bukan mata pelajaran apa yang diampu seorang guru.

Adapun guru yang telah mendapatkan sertifikasi, kata dia, akan terus dievaluasi kinerjanya. Yang bersangkutan juga harus bisa memenuhi target mengajar 24 jam/minggu.

Namun demikian, persentase kelulusan sertifikasi dari tahun ke tahun cenderung menurun. Dia menjelaskan, pada 2006, dengan kuota 20 ribu, yang lulus portofolio 49,60% dan PLPG 42,89%. Sedangkan pada 2007, dari 180.450, hanya 40,95% lulus portofolio dan 50,02% lulus PLPG. Tahun lalu, dari kuota 200 ribu, hanya 32.22% lulus portofolio, 33.20% lulus PLPG.

Seperti diketahui, kriteria penetapan peserta sertifikasi guru dalam jabatan adalah masa kerja, usia, golongan/pangkat, beban mengajar, tugas tambahan, dan prestasi kerja. Namun demikian tidak semua dinas melakukan penyusunan daftar urut guru calon peserta sertifikasi karena dirasakan terlalu rumit.

Guru yang sudah bersertifikat memerlukan dana Rp 57 triliun pada 2015, jadi pengeluaran biaya yang tinggi untuk pendidikan, khususnya guru, akan sia-sia jika yang bersangkutan tidak menunjukkan kinerjanya.

Pembicara lain, Direktur Tenaga Kependidikan Depdiknas Surya Dharma MPA PhD menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru demi peningkatan mutu pendidikan, khususnya prestasi akademik siswa. (H11-45)

30 Maret, 2009

Tunjangan Profesi Guru Terancam Dihentikan

Belum Ada PP dan Perpres yang Mengatur

JAkarta, Kompas - Pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen sebesar satu kali gaji pokok per bulan terancam dihentikan. Penghentian tunjangan profesi guru dan dosen ini akibat belum adanya peraturan pemerintah dan peraturan presiden mengenai tunjangan profesi.

Sesuai dengan yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pemberian tunjangan profesi diatur melalui peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (perpres). Namun, kedua peraturan tersebut hingga saat ini masih disusun.

Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK05/ 2009 tertanggal 12 Maret 2009 soal pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen PNS/nonPNS pada Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, jika sampai akhir Juni 2009 PP dan perpres mengenai tunjangan profesi belum ditetapkan, pembayaran tunjangan profesi untuk sementara dihentikan.

Apabila sampai akhir tahun 2009 PP dan perpres mengenai tunjangan profesi guru dan dosen belum juga ditetapkan, tunjangan profesi yang telanjur dibayarkan akan dipotong secara bertahap dari gaji guru yang bersangkutan sesuai ketentuan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Pengaturan Gaji PNS, pemberian tunjangan PNS tertentu (seperti tunjangan profesi guru dan dosen) diatur dengan perpres.

Membuat resah

Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Jumat (27/3), menyesalkan adanya surat menteri keuangan yang akan menghentikan pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen. ”Surat itu membuat resah para guru. Persoalan administratif seharusnya sudah diselesaikan pemerintah jauh-jauh hari sebelumnya. Kami meminta supaya hak guru dan dosen tetap dibayarkan karena itu amanat UU Guru dan Dosen,” katanya.

Menurut Sulistiyo, PGRI sudah mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta Presiden segera menerbitkan perpres tunjangan guru dan dosen sebelum Juni ini. ”Saya juga sudah berkoordinasi dengan Menteri Sekretaris Negara. Mensesneg berjanji untuk melakukan upaya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak supaya perpres yang mengatur tunjangan profesi guru selesai sebelum Juni,” katanya.

Baedhowi, Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa sampai saat ini pembayaran tunjangan profesi guru di Depdiknas masih berjalan. Tunjangan profesi guru dari pemerintah pusat di lingkungan Depdiknas dimasukkan sebagai bantuan sosial, bukan gaji, sehingga tidak ada masalah.

Baedhowi menjelaskan, yang dibutuhkan adalah PP Dosen yang belum ada. Selain itu juga Perpres mengenai Tunjangan Profesi untuk guru di lingkungan Departemen Agama. Tunjangan profesi guru agama belum dibayar karena tunjangan profesi dimasukkan dalam komponen gaji sehingga belum bisa dicairkan.

”Depdiknas bersama Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara terus bertemu untuk mempercepat pembahasan masalah ini,” ujarnya. (ELN)